07Mar, 2016

“PENGEMBANGAN BIOPRODUK RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MEMINIMALKAN KERUSAKAN LINGKUNGAN”.

Petikan Orasi Ilmiah Prof. Khaswar Syamsu, Ph.D.

Bismillaahahirrahmaanirrahiim.

Yang Terhormat.

Rektor Institut Pertanian Bogor

Ketua dan Anggota Majelis Wali Amanah IPB

Ketua dan Anggota Senat Akademik IPB

Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar IPB

Para Wakil Rektor, Sekretaris Institut, Dekan, dan Pejabat Struktural di IPB

Para Dosen, Tenaga Kependidikan, Mahasiswa dan  Alumni IPB

Keluarga tercinta, para sahabat, dan hadirin sekalian yang saya muliakan.

 

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh.

Puji dan syukur tiada putus putusnya kita panjatkan kehaderat Ilahi Rabbi, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang berkat rahmat dan karunia-Nya kita bisa hadir pada pada pagi ini untuk mengikuti sidang terbuka IPB dengan acara Oarsi Ilmiah Guru Besar IPB. Selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para sahabat, keluarga dan pengikut beliau.  

Orasi Ilmiah ini saya awali dengan membacakan peringatan Allah SWT dalam Al Quran, surat Ar Ruum ayat 41 yang terjemahannya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut  disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar Ruum 41). 

Pada kesempatan yang sangat berharga ini, izinkanlah saya sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian menyampaikan Orasi Ilmiah yang berjudul

 

“PENGEMBANGAN BIOPRODUK RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MEMINIMALKAN KERUSAKAN LINGKUNGAN”.

 

Orasi ini merupakan rangkuman dari sebagian hasil penelitian saya bersama kolega peneliti dan para mahasiswa bimbingan selama 15 tahun terakhir. Dari lubuk hati yang paling dalam saya berharap semoga hasil hasil penelitian ini memberikan sumbangsih dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dapat bermanfaat bagi manusia dan alam lingkungan sehingga bisa pula menjadi amal ilmiah dari ilmu yang amaliah bagi saya dan kolega yang telah dan akan melaksanakan penelitian pada bidang  ini.

 

Pendahuluan

Bioproduk merupakan bahan yang dihasilkan oleh “makhlus halus”, bukan jin tetapi mikroba yang hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop. Mikroba dianggap lebih potensial untuk menghasilkan produk karena laju pertumbuhan, penggandaan sel dan pembentukan produk yang jauh lebih cepat dari pada tanaman dan hewan sehingga produktifitasnya sangat tinggi.  Sebagai gambaran perbandingan, selulosa kayu untuk pulp dan kertas baru dapat dipanen setelah tanaman ditumbuhkan selama 4 sampai 6 tahun sedangkan selulosa mikrobial sudah dapat dipanen setelah dikultivasi selama 1 minggu.  Selain itu, mikroba dapat dikultivasi  menggunakan luasan area yang relatif kecil (bioreaktor) tanpa tergantung kepada musim dan iklim sehingga dapat berproduksi sepanjang waktu. Untuk pertumbuhan dan pembentukan produknya, mikroba dapat menggunakan substrat atau media pertumbuhan dari hasil pertanian bahkan dari hasil samping atau limbah pertanian. Dengan demikian, mikroba sangat prospektif dan potensial digunakan untuk menghasilkan bioproduk guna mensubstitusi material dari tanaman, hewan ataupun bahan tambang, khususnya minyak bumi. Pada orasi ini akan diuraikan beberapa pemanfaatan mikroba untuk produk ramah lingkungan yaitu  bioetanol, bioplastik dan bioselulosa.

 

Bioetanol

Saat ini persediaaan bahan bakar minyak bumi (BBM) sebagai sumber energi  yang tak terbarukan di Indonesia dan di dunia mulai menipis dengan konsekwensi harga yang semakin mahal. Direktorat Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM (2013), menjelaskan bahwa beberapa tahun terakhir pertumbuhan konsumsi energi Indonesia mencapai 7% pertahun. Angka ini berada diatas pertumbuhan konsumsi energi dunia yaitu 2,6% per tahun. Salah satu solusi dari masalah tersebut adalah perlunya pengembangan energi alternatif dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui.

Penggunaan bahan bakar nabati bioetanol sebagai sumber energi alternatif memiliki banyak kelebihan.  Bioetanol sebagai sumber daya alam yang dapat diperbarui merupakan kelebihan yang utama dibanding bahan bakar fosil berbasis minyak bumi.  Sederhananya, selama matahari masih menyinari bumi  untuk fotosintesis tanaman dan selama manusia masih mau mengusahakan budidaya tanaman penghasil bahan baku bioetanol (kebun energi) maka akan ada jaminan ketersediaan energi secara lestari dan berkesinambungan.  

Penggunaan bioetanol sebagai  sumber energi akan mengharuskan manusia untuk menanam tanaman penghasil bahan untuk produksi bioetanol.  Pembudidayaan tanaman tersebut akan meningkatkan penyerapan CO2 di udara melalui kegiatan fotosintesis dan akan berkontribusi positif pada pengurangan pemanasan global yang sekarang mengancam dunia.

Penggunaan bahan bakar nabati tidak saja  menjamin ketersediaan energi secara lestari dan mengurangi polusi terhadap lingkungan.  Lebih dari itu, penggunaan bahan bakar nabati bioetanol sebagai sumber energi terbarukan akan  menumbuhkembangkan aktifitas pertanian, industri pengolahan hasil pertanian,  dan ekonomi pertanian secara umum.

Banyak  pihak   mengkritisi  pengembangan bioetanol  karena dapat mengancam ketahanan pangan  sehingga ketahanan  pangan dan ketahanan  energi menjadi pilihan sulit seperti memakan buah simalakama.  Sejatinya,  ketahanan pangan dan ketahanan energi  bukanlah pilihan hitam atau putih  dimana yang satu akan meniadakan yang lain.  Ketahanan energi tidak akan mengancam ketahanan pangan selama  ketersediaan masih melebihi kebutuhan. Karena itu pemanfaatan sumber daya hayati yang masih belum termanfaatkan secara optimum, dan pemanfaatan lahan marginal dan lahan tidur untuk  menghasilkan tanaman penghasil  bahan untuk produksi bioetanol  merupakan langkah yang tepat untuk  penyediaan sumber bahan bakar nabati bioetanol tanpa menganggu ketahanan pangan,  sekaligus  meningkatkan  peran  petani dan pertanian dalam menciptakan  ketahanan pangan  sekaligus ketahanan energi.

Perkembangan bahan bakar nabati bioetanol sampai saat ini belumlah menggembirakan sebagaimana yang diharapkan.  Kelemahan BBN bioetanol  yang utama terletak pada harga yang belum kompetitif dengan harga BBM.  Untuk dapat menurunkan ongkos produksi yang pada gilirannya menurunkan harga jual maka dapat dilakukan beberapa strategi, antara lain  pencarian bahan baku yang murah, mudah didapat, dan tersedia dalam jumlah berlimpah; pencarian strain mikroba unggul yang memiliki produktifitas tinggi; serta pengembangan teknologi proses yang lebih produktif  dan efisien dalam menghasilkan bioetanol.

     Proses produksi bioetanol secara sederhana adalah fermentasi gula sederhana yang berasal, baik dari nira maupun hasil hidrolisis pati ataupun polisakarida lain, menjadi bioetanol menggunakan mikroba khamir.  Pada kondisi cukup udara, khamir ini menghasilkan lebih banyak biomassa sel dan sedikit hasil samping dalam bentuk bioetanol.  Namun sebaliknya dalam kondisi ketiadaan udara khamir ini cenderung menghasilkan lebih banyak bioetanol dan sedikit biomassa sel.  Fisiologi mikroba dan fenomena biokimia ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perolehan bioetanol dengan cara memanipulasi kondisi kultivasi  melalui penghentian suplai udara pada waktu yang tepat sehingga pada saat yang tepat terjadi pengalihan metabolisme sel dari respiratif (untuk menghasilkan sel sebanyak-banyaknya) ke kondisi fermentatif (untuk menghasilkan bioetanol sebanyak-banyaknya).  Rekayasa bioproses ini telah terbukti dapat menghasilkan bioetanol pada konsentrasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan proses fermentasi biasa tanpa rekayasa.

  Untuk meningkatkan  produktivitas produksi bioetanol tanpa menurunkan efisiensi konversi substrat menjadi produk maka penelitian paling mutakhir dilakukan dengan menerapkan konsep rekayasa bioproses ini pada kultivasi sinambung dua tahap yang direkayasa dimana pada boreaktor pertama dilakukan penumbuhan sel secara respifratif, sedangkan pada bioreaktor kedua dilakukan pembentukan bioetanol secara fermentatif.  Kinerja dari proses secara keseluruhan dipengaruhi oleh konsentrasi sel, substrat, laju pertumbuhan, dan laju alir proses dengan hubungan yang kompleks.  Hasil optimasi melalui simulasi model yang kemudian diverifikasi secara eksperimental menunjukkan bahwa produktivitas fermentasi bioetanol menggunakan substrat nira sorgum pada kultivasi sinambung dua tahap respiratif-fermentatif,  5.7 kali lebih tinggi dari produktifitas kultivasi batch yang dipraktekkan selama ini, dan 1.7 kali lebih tinggi dibandingkan produktifitas kultivasi sinambung tanpa rekayasa bioproses pada volume bioreaktor yang sama.

Bioplastik Ramah Lingkungan

Pembuangan produk  plastik dan bahan-bahan polimer berbasis minyak bumi pada akhir penggunaannya telah menyebabkan problem lingkungan yang serius.  Hal ini berkaitan dengan sifat bahan tersebut yang tidak dapat atau sangat sulit didegradasi secara biologis oleh mikroba yang ada secara alami di lingkungan.  Minyak bumi, di sisi lain,  merupakan sumber daya alam yang terbatas dan tidak dapat diperbaharui, sehingga diperlukan usaha pencarian alternatif penggantinya.

Secara bioteknologi ada dua cara atau pendekatan untuk mengatasi persoalan plastik ini. Cara pertama adalah dengan pendekatan rekayasa genetika (genetic engineering) yaitu dengan merekayasa mikroba yang ada secara genetika  sehingga dapat mendegradasi plastik berbasis minyak bumi. Namun pendekatan ini beresiko tinggi apabila mikroba hasil rekayasa  tersebut terlepas ke lingkungan tanpa kendali sehingga justeru dapat menimbulkan bencana karena mikroba terekayasa tersebut tidak dapat membedakan mana yang boleh dan yang tidak boleh didegradasi.  Cara kedua adalah dengan pendekatan rekayasa bioproses (bioprocess engineering) yaitu merekayasa bahan baru (new material) yang dapat didegradasi oleh mikoba yang ada di lingkungan. Salah satu bahan baru yang potensial itu adalah Poli Hidroksi Alkanoat (PHA) yang merupakan cadangan makanan milroba Ralstonia eutropha. Pendekatan ini diharapkan dapat memecahkan masalah lingkungan tanpa menimbulkan masalah baru bagi lingkungan.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa perolehan biopolimer tertinggi pada substrat hidrolisat minyak sawit sejalan dengan perolehan biomassa tertinggi. Optimasi lebih lanjut menggunakan metodologi permukaan respon  menghasilkan PHA  lebih dari 10 g/L dari biomasa lebih dari 20 g/L yang diperoleh pada konsentrasi karbon sebesar 41.88 g/L dan konsentrasi nitrogen sebesar 4.28 g/L .

Hasil penelitian lanjutan yang dilakukan mengindikasikan bahwa pertumbuhan sel atau biomassa optimal berlangsung  pada  kondisi  nutrisi yang seimbang, sedangkan pembentukan PHA distimulasi oleh ketidak seimbangan nutrisi. Temuan ini mengarah kepada hipotesa bahwa akumulasi PHA tertinggi  akan diperoleh melalui pembatasan nutrisi induktif setelah tercapai produksi biomassa yang maksimum. Dengan demikian rekayasa bioproses lebih lanjut pembentukan PHA  dilakukan melalui strategi kultivasi dua tahap. Tahap pertama ditujukan untuk memaksimumkan pembentukan biomasa menggunakan nutrisi seimbang, sedangkan kultivasi tahap kedua ditujukan untuk memaksimumkan pembentukan PHA melalui pembatasan nutrisi induktif.

 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengumpanan sumber karbon saja dan/atau pembatasan aerasi menginduksi pembentukan dan akumulasi PHA seperti diindikasikan oleh peningkatan konsentrasi dan rendemen spesifik PHA. Perlakuan ini menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi dimana sumber karbon berlebih sedangkan nutrisi lain terbatas. Pengumpanan hidrolisat pati sagu saja meningkatkan rendemen PHA dan akumulasi produk lebih dari dua kali lipat, sedangkan biomassa hanya meningkat sekitar 10%.  

Meskipun bioplastik menunjukkan sifat-sifat yang menguntungkan untuk berbagai aplikasi, namun komersialisasinya masih menghadapi kendala ekonomi. Biaya produksi yang berimbas kepada nilai jual produk ini di pasaran masih jauh lebih tinggi dibandingkan nilai jual produk plastik yang berbasis petrokimia sehingga belum kompetitif di pasaran. Sebagai perbandingan harga biji plastik konvensional sebesar 1 USD per kg sementara bioplastik masih berharga 4-16 USD per kg (California Department  of Resources Recyling and Recovery, 2013).

Penelitian plastik ramah lingkungan yang mutakhir adalah bioplastik nanofiber selulosa asetat dari selulosa tandan kosong kelapa sawit. Untuk membentuk bioplastik, selulosa tandan kosong kelapa sawit diasetilasi dengan asetat anhidrida untuk menghasilkan selulosa asetat. Selulosa asetat memiliki kualitas sangat baik dengan transparansi yang baik, kekuatan tarik tinggi, tahan panas, daya serap air rendah, dan mudah terdegradasi secara alami sehingga cocok digunakan sebagai bahan bioplastik.

Kekuatan mekanik pada serat selulosa sangat dipengaruhi oleh diameter serat. Semakin kecil diameter serat maka semakin tinggi nilai kekuatan tarik dan modulus elatisitas. Karena itu pembuatan bioplastik dari nano fiber selulosa asetat diharapkan akan memperbaiki sifat fisik dan mekanik bioploastik yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kekuatan tarik  bioplastik dari nanofiber selulosa asetat yang dihasilkan lebih baik dari PHA dan LDPE, dan lebih mendekati kekuatan tarik  PVC yaitu 20 MPa. Aplikasi bioplastik ini juga bisa digunakan pada kemasan seperti plastik pembungkus yang sekali pakai langsung buang.

Bioselulosa untuk Kertas Ramah Lingkungan

Kertas merupakan produk yang berasal dari pemanfaatan selulosa sebagai bahan baku. Kertas digunakan secara luas dalam peradaban manusia, baik dalam bidang pendidikan, media massa,  maupun dalam bidang industri sebagai bahan kemasan.   Berdasarkan data resmi dari FAO, sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2007 produksi kertas dan karton dunia rata-rata meningkat lebih dari 3% setiap tahun dengan konsumsi lebih dari 383 juta ton kertas dan karton pada tahun 2007. Peningkatan konsumsi kertas tersebut membutuhkan kenaikan jumlah kayu sebagai bahan baku kertas dari lahan hutan seluas 1 sampai 2 juta ha/tahun. Peningkatan kebutuhan kayu dapat menyebabkan kenaikan laju deforestasi dan kerusakan hutan. Kenaikan laju deforestasi pada gilirannya akan menimbulkan beberapa dampak terhadap lingkungan, diantaranya bencana alam seperti erosi dan banjir pada musim hujan, kekeringan pada musim kemarau, serta pemanasan global yang telah menjadi isu lingkungan utama dunia saat ini.  Pemanasan global akan berdampak pada perubahan iklim secara tidak menentu sehingga mengancam kelestarian alam.

Kertas pada dasarnya dapat dibuat dari semua bahan setengah jadi (pulp) yang mengandung selulosa. Namun demikian, selulosa kayu sampai saat ini masih mendominasi bahan utama yang digunakan dalam proses pembuatan kertas. Salah satu alternatif potensial pengganti selulosa kayu adalah selulosa mikrobial. Selulosa mikrobial sebagai alternatif penganti kayu memiliki kelebihan yaitu memiliki tingkat kemurnian yang tinggi karena terbebas dari kandungan lignin, proses isolasi yang mudah, memiliki kristalinitas dan produktifitas selulosa yang tinggi serta memiliki warna yang cenderung bening atau putih sehingga relatif  kurang memerlukan bahan pemutih dibandingkan selulosa kayu.   Kelebihan produktifitas dan karakteristik khas selulosa mikrobial menjadi dasar pemikiran pemanfaatan selulosa mikrobial untuk bahan baku pembuatan kertas ramah lingkungan.  

Berdasarakan hasil penelitian yang telah dilakukan selulosa mikrobial dari nata atau campurannya dengan pulp kayu telah terbukti bisa digunakan sebagai bahan pembuat kertas yang kuat dan ramah lingkungan. Kualitas kertas dari pulp selulosa mikrobial yang dihasilkan untuk indeks tarik dan indeks sobek berada diatas kualitas kertas dari pulp Acacia mangium, jerami, bagas dan pulp abaka. Daya serap air kertas lebih rendah dibandingkan standar daya serap air kertas bungkus dan kertas dari batang pisang ambon, sehingga retensi terhadap air lebih baik. Dengan demikian selulosa mikrobial dapat digunakan sebagai selulosa alternatif dalam proses pembuatan kertas. 

Ketiadaan peralatan yang cocok yang dirancang khusus untuk produksi kertas hanya dari selulosa mikrobial merupakan kelemahan dari penggunaan selulosa mikrobial sebagai bahan kertas. Karena itu pulp selulosa mikrobial perlu dicampur dengan sumber pulp selulosa non kayu lainnya.  Beberapa kajian telah dilakukan terkait  dengan  pembuatan kertas campuran dari bahan selulosa mikrobial dengan selulosa non kayu lainnya, yaitu dengan sabut kelapa); dan selulosa mikrobial dengan tandan kosong kelapa sawit. Kajian ini telah memberikan alternatif bahan-bahan pembuatan kertas ramah lingkungan dari bahan-bahan non kayu. sekaligus untuk memperbaiki karakteristik kertas yang dihasilkan untuk tujuan tujuan khusus.

 

Penutup

Mikroba secara teoritis lebih potensial dan prospektif  untuk menghasilkan produk dibanding tanaman dan hewan karena laju pertumbuhan dan penggandaan sel serta laju pembentukan produk yang jauh lebih cepat dari pada tanaman dan  hewan sehingga produktifitasnya jauh lebih tinggi.  Selain itu, mikroba dapat dikultivasi  menggunakan luasan area yang relatif kecil  tanpa tergantung kepada musim dan iklim sehingga dapat berproduksi sepanjang waktu. Untuk tumbuh dan menghasilkan produk, mikroba dapat menggunakan substrat atau media pertumbuhan dari hasil pertanian, hasil samping pertanian/agroindustri,  bahkan dari limbah pertanian/agroindustri. Penggunaan mikroba untuk menghasilkan produk ramah lingkungan tidak saja dapat mensubstitusi bahan bahan yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui atau dari tanaman dan hewan yang terancam kelestariannya,  lebih dari itu juga dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, atau hasil samping agroindustri, bahkan limbah agroindustri. 

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 

Sebelum mengakhiri orasi ilmiah ini, izinkalanlah saya sekali lagi memanjatkan puji dan syukur kehaderat Allah SWT karena hanya berkat rahmat dan nikmat-Nya sajalah saya bisa berdiri di atas  mimbar yang terhormat ini. Saya yang berasal dari keluarga besar dengan 8 orang kakak dan adik, dengan Ayah hanya seorang guru STM dan Ibu seorang ibu rumah tangga di kampung, akhirnya berkat pertolongan Allah SWT  berhasil juga mencapai gelar Sarjana, bahkan bisa mencapai jabatan fungsional tertinggi sebagai Guru Besar di perguruan tinggi kebangggan ini. Bakti dan doa yang tulus saya haturkan kepada kedua orang tua saya, Ayahanda Syamsul Bahar, BA (almarhum) dan Ibunda Khamisah Idris serta kakak-kakak  dan adik adik saya yang senantiasa mendoakan saya ditengah segala keterbatasan  ekonomi untuk bisa menuntut ilmu setinggi mungkin.

 

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI atas penetapan saya sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Rekayasa Bioproses di Fakultas Teknologi Pertanian IPB sejak 1 Juli 2009. Ucapan terima kasih yang sama juga saya sampaikan kepada Rektor IPB dan segenap jajarannya, Ketua dan Anggota Majelis Wali Amanah IPB,  Ketua dan Anggota Senat Akademik IPB;  Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar  IPB, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB dan jajarannya, Ketua dan Anggota Senat Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Ketua Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB, Kepala Bagian Bioindustri-Departemen TIN yang telah memberikan kesempatan, dorongan, dan persetujuan bagi saya untuk memperoleh jabatan Guru Besar.

 

Capaian saya pada hari ini tidak terlepas dari jasa Bapak dan Ibu guru saya sejak saya mengenal huruf dan tulis baca di SD no 7 Solok, SMPN I Solok, SMAN I Solok. Demikian juga kepada Bapak dan Ibu dosen di Tingkat Persiapan Bersama, di Departemen Teknologi Industri Pertanian, dan di Fakultas Teknologi Pertanian IPB yang telah membuka wawasan saya tentang Pertanian dan Industri Pengolahan Hasil Pertanian. Semoga ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat bermanfaat yang telah Bapak dan Ibu berikan menjadi amal ibadah yang tidak akan putus putusnya dibalas oleh Allah SWT.

 

Secara khusus saya menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada Bapak Prof. Abdul Aziz Darwis, dan Ibu Prof. Tun Tedja Irawadi sebagai Dosen Pembimbing saya pada saat menempuh pendidikan sarjana di Jurusan Teknologi Industri Pertanian atas segala bimbingan, dan bantuan penelitian akhir sarjana yang tanpa bantuan tersebut saya niscaya tidak dapat menyelesaikan pendidikan di IPB.

 

Terima kasih juga saya haturkan  kepada  Prof. Irawadi Djamaran yang pada tahun 1988 sebagai Ketua Departemen Teknologi Industri Pertanian, Dr. Muhammad Yusuf (alm) selaku Kepala PAU Bioteknologi IPB, Prof. Abdul Aziz Darwis sebagai kepala laboratorium waktu itu yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya untuk mendapatkan beasiswa World Bank XVII guna melanjutkan pendidikan pasca sarajana di Departement of Chemical Engineering, University of Queensland pada tahun 1988-1992.

 

Terima kasih secara khusus juga saya sampaikan kepada dosen pembimbing saya di saat pendidikan Master in Biotechnology, yaitu Prof. Horst D. Doelle dan Prof. Peter L.Lee, dan dosen pembimbing saya saat pendidikan program PhD in Chemical Engineering di University of Queensland, yaitu Prof. Paul F. Greenfield dan Prof. David A. Mitchell yang telah membawa saya ke kancah pendidikan dan penelitian international serta telah mengusahakan scholarship dari Departement of Chemical Engineering, University of Queensland untuk melanjutkan program PhD saya dari tahun 1992-1994.

 

Kepada Panitia Pelaksana Orasi Ilmiah Guru Besar IPB yang dipimpin oleh Dr. Drajat Martianto, saya mengucapkan terima kasih. Saya juga berterima kasih kepada Prof. Anas M. Faui dan Prof. Erliza Noor yang telah melakukan koreksi dan memberikan masukan yang bermanfaat untuk perbaikan naskah orasi ilmiah saya ini.

 

Secara sangat khusus saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga yang menjadi inspirasi dan motivasi saya, yaitu isteriku tercinta Meri Harmadia, anak anakku tercinta Muhammad Fathan Kamil dan Muhammad Fawwaz Kamil yang menyenangkan hati dan mata memandang,  yang selalu mendampingi dalam keadaan suka dan duka, selalu sabar, pengertian,  serta selalu saling mendoakan. Terima kasih juga saya haturkan kepada kedua mertua saya, Bapak Syafri  dan Ibu Dahliar Jamal beserta keluarga besar. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Keluarga Besar Kampai, Keluarga Besar Angku Imam, Keluarga Besar Angku Sulaiman, dan  semua pihak yang telah membantu dan berperan dalam hidup yang tidak tersebutkan satu per satu.

 

Terima kasih yang sama saya sampaikan kepada Prof. E. Gumbira Said (alm), Dr. Abdul Basith dan Dr. Illah Sailah yang sudah saya anggap sebagai kakak kandung yang telah banyak membimbing saya dalam menajalani kehidupan, serta Prof. Muhammad Romli, Prof. Erliza Noor, Prof. Linawati Harjito, sebagai teman seperjuangan di Departemen of Chemical Engineering, University of  Queensland, dan Dr. Drajad Hari Wibowo selaku rekan seperjuangan di organisasi Persatuan Pelajar Indonesia Australia cabang Queensland.

 

Terima kasih saya sampaikan kepada seluruh kolega saya di Departemen Teknologi Industri Pertanian khususnya Ketua Departemen Prof. Nasiti Siswi Indrasti, Kepala Bagian Bioidustri, Prof. Djumali Manguwidjaja, teman seperjuangan dalam penelitian Prof. Ani Suryani, Prof. Anas M Fauzi, dan seluruh mahasiswa bimbingan S3, S2 dan S1 yang telah merealisasikan ide ide penelitian kami serta seluruh teknisi dan tenaga administrasi di Departemen TIN dan Fateta. Terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Sdr. Achmad Mujib yang banyak membantu penyiapan orasi ilmiah ini. 

 

Terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh kolega seperjuangan di Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, khususnya Prof. Sony Soeharsono, Dr. Machmud Thohari, Dr. Sri Budiarti Purwanto, dan seluruh teknisi dan tenaga adminisrasi, seluruh kolega di Orgainisasi  Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia, Konsorsium Bioteknologi Indonesia dan kawan kawan dosen dari Minang, khususnya Ibu Prof. Tien R Muchtadi, Prof. Umar A. Jennie, dan, Prof. Syafrida Manuwoto.

 

Terima kasih yang sama saya sampaikan kepada seluruh pimpinan dan teman teman di Lembaga Pengkajian Pangan, Obat Obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, suatu lembaga tempat saya melakukan pengamalan ilmu dan pengabdian masyarakat sesuai dengan kompetensi saya di bidang agroindustri dan bioindustri;  serta teman teman di Unit Olah Raga dan Seni IPB, suatu tempat saya menyalurkan hobby berolah raga badminton, pingpong dan tennis. Tidak lupa saya juga berterima kasih kepada seluruh warga Paguyuban Rasamala, Taman Yasmin  tempat kami sekeluarga bercengkrama bersama dalam kehidupan kekeluargaan sehari hari yang damai dan harmonis. 

 

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada kawan kawan di SD no 7 Solok, SMPN I Solok, SMAN I Solok, Kelompok V TB IPB, kawan-kawan Angkatan 19 IPB (Andika), dan kawan kawan di Departemen Teknologi Industri Pertanian angkatan ke-3 yang telah berbagi suka dan duka dan memberi warna warni dalam kehidupan saya. 

 

Akhirnya, saya sampaikan kepada seluruh hadirin yang dengan sabar  dan penuh perhatian telah mengikuti jalannya orasi ilmiah ini. Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam penyampaian orasi ilmiah ini. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf atas segala kekurangan tersebut. Mudahan-mudahan apa yang telah saya sampaikan dalam orasi ilmiah ini memberi manfaat bagi kita semua.

Aamiin yaa rabbal ‘alamin.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(abdulaz)


Tentang Kami

Address: Gedung Gymnasium IPB

Jl. Meranti, Kampus IPB Dramaga Bogor, Indonesia

Phone: (0251) 862-8783

Fax : (0251) 862-8783

Email: orsen@ipb.ac.id

Copyright 2014 IPB | All Rights Reserved